Inilah Penyebab Kepribadian Ganda atau Dissociative Identity Disorder

Menurut Alodokter, gangguan kepribadian ganda merupakan suatu kondisi di mana terdapat dua atau lebih kepribadian yang berbeda di dalam diri seseorang. Dua sosok tersebut masing-masing berdiri sendiri. Emosional, kekerasan fisik, atau seksual yang terjadi secara berulang pada masa kecil akan berisiko menjadi penyebab utama kepribadian ganda.



Kepribadian ganda atau yang dikenal juga dengan sebutan gangguan identitas disosiatif (dissociative identity disorder). Faktanya, sebagian orang pernah mengalami disosiatif ringan, seperti melamun atau hilang arah ketika seseorang mengerjakan sesuatu. Akan tetapi, kepribadian ganda merupakan bentuk dari gangguan disosiatif yang termasuk berat.

Adapun tanda-tanda orang yang memiliki gangguan kepribadian ganda sebagai berikut.

Orang yang mempunyai kepribadian ganda, terkadang tidak menyadari bahwa dirinya memiliki kelainan. Salah satu gejala atau tanda yang bisa menandakan bahwa seseorang mempunyai ciri kepribadian ganda yaitu merasa seperti dirasuki ketika kepribadian akan berganti, bahkan beberapa orang menggambarkan kondisi tersebut seperti kesurupan.

Latar belakang banyaknya kepribadian yang muncul pada diri seseorang merupakan respons adaptif terhadap rasa takut, trauma, sakit yang luar biasa. Hal tersebut mirip dengan mekanisme pertahanan diri.

Masing-masing kepribadian yang ada pada gangguan kepribadian ganda memiliki identitas berbeda satu sama lain. Setiap kepribadian mempunyai pola pikir, perilaku, cara berbicara, jenis kelamin, serta usia yang berbeda. Bahkan, masing-masing kepribadian tersebut bisa memegang kendali penuh atas tubuh si penderita secara bergantian. Sehingga si penderita merasa ada orang lain yang hidup di tubuhnya.

Penyebab Umum Kepribadian Ganda.

Walaupun penyebab kepribadian ganda masih belum diketahui secara pasti. Namun, peneliti menunjukkan bahwa sekitar 90% penderita kepribadian ganda memiliki pengalaman traumatis saat masa kecil. Pengalaman tersebut bisa berupa penganiayaan, pelecehan fisik maupun emosional secara berulang. Penelitian bahkan menduga bahwa pola asuh orang tua yang sering membuat anak merasa takut bisa membuat anak mengalami kepribadian ganda. Selain hal tersebut, sejumlah penelitian menduga bahwa gangguan ini rentan terjadi pada individu yang mempunyai riwayat kepribadian ganda di dalam keluarganya.

Pemeriksaan serta penanganan gangguan kepribadian ganda.

Untuk dapat memastikan diagnosis kepribadian ganda, penderita perlu menempuh pemeriksaan ke ahli kejiwaan atau dokter. Pemeriksaan tersebut termasuk pemeriksaan fisik, evaluasi medis kejiwaan, serta pemeriksaan penunjang seperti tes darah atau urine untuk mendeteksi kemungkinan penyalahgunaan obat atau zat tertentu.

Selain hal di atas, sejauh ini belum ditemukan pengobatan secara khusus yang dapat menyembuhkan penderita kepribadian ganda. Pada umumnya penanganan yang dapat dianjurkan yakni melalui kombinasi terapi psikologis, di antaranya seperti psikoterapi atau konseling serta terapi perilaku, disertai dengan pemberian obat-obatan. Karena kepribadian ganda tersebut sering kali disertai dengan adanya masalah kejiwaan yang lain, seperti depresi dan kecemasan, obat antidepresan serta obat penenang mungkin akan diresepkan untuk dapat mengontrol gejala.

Adapun respons masing-masing orang terhadap si penderita kepribadian ganda pastilah berbeda beda. Akan tetapi, pada umumnya terapi bisa membantu menangani gejala apabila dilakukan secara rutin. Terapi bisa juga berperan untuk mencegah munculnya masalah psikologis dan perilaku terkait dengan gangguan kepribadian ganda.

Seperti yang kita ketahui, bahwasannya orang yang memiliki kepribadian ganda akan mengalami kesulitan untuk menjaga hubungannya dengan orang-orang yang berada di sekitar mereka. Tidak hanya itu saja, penderita tidak menutup kemungkinan bisa menyakiti diri sendiri atau menyakiti orang lain yang berada di sekitarnya. Bahkan, bisa saja menyalahgunakan obat-obatan. Terapi yang bisa dijalani si penderita haruslah fokus agar penderita merasa nyaman berhubungan dengan orang lain serta mencegah penderita melakukan hal-hal berbahaya.

Post a Comment

0 Comments